Selamat datang perawat dan juga seluruh calon perawat diseluruh penjuru dunia, 1000 asuhan keperawata sudah saya siapkan yang bisa untuk dijadikan suatu bimbingan buat anda yang mungkin saat ini membutuhkan. Silahkan Tinggalkan Komentar, Saran Anda Adalah Suatu Penghargaan Bagi Saya untuk kedepannya. Salam Sukses Sulfikar Aferil Praditya ! Lihat Tentang Saya [Klik Disini]
Jumat, 18 Maret 2011

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL

Oleh : Sulfikar Aferil Preaditya

PENDAHULUAN

Pembangunan Kesehatan diarahkan guna tercapainya kesadaran, kemauan dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk sehingga derajat Kesehatan dapat dicapai secara optimal.

Rumah sakit sebagai suatu sistem pelayanan Kesehatan yang mengemban tugas melaksanakan upaya Kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan. Berdasarkan tugas rumah sakit di atas, maka salah satu fungsi rumah sakit adalah menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan.

Yang dimaksud dengan pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah salah satu jenis pelayanan professional yang diselenggarakan oleh rumah sakit untuk melayani kebutuhan masyarakat khususnya dalam bidang keperawatan yang diorganisir melalui pelayanan rawat inap. Seluruh kegiatan pelayanan keperawatan di rumah sakit diselenggarakan selama 24 jam sehari secara berkesinambungan. Kegiatan tersebut diatur dan diorganisir oleh manajer keperawatan.

Pelayanan keperawatan sebgai bagian integral dari pelayanan Kesehatan di rumah sakit, menentukan mutu pelayanan Kesehatan di rumah sakit, oleh karena keberadaan perawat yang memberikan asuhan keperawatan selama 24 jam secara berkesinambungan. Keluhan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan pada umumnya ditujukan pada sikap perawat yang kurang baik, kurang terampil dalam berkomunikasi.

Dalam aspek pelayanan keperawatan dimana pelayanan keperawatan sebagai bentuk kegiatan utama dari pelayanan Kesehatan yang diberikan kepada masyarakat belum dapat diwujudkan sebagai pelayanan Kesehatan yang berkualitas. Keadaan actual pelayanan keperawatan menunjukkan bahwa banyak tenaga keperawatan lebih berkonsentrasi dan terlibat dengan tindakan pengobatan dan penggunaan tehnologi yang berorientasi medik untuk mengatasi kompleksitas penyakit. Mereka berupaya untuk saling mendukung dengan profesi Kesehatan lain, namun sebagai praktisi mereka masih dinilai lebih rendah untuk komitmen dan tanggung jawab penting yang diembannya.

Sebaliknya, sedikit sekali perawat yang melakukan pelayanan keperawatan berorientasi keperawatan yang dilandaskan pada teori dan konsep keperawatan untuk memenuhi kebutuhan individu yang sedang merngalami respon terhadap penyakit dan pengobatan. Sehingga karakteristik dari peran dan fungsi keperawatan dalam sistem pelayanan kesehatan di rumah sakit kurang terlihat secara jelas. Hal ini dapat memfasilitasi situasi yang kurang kondusif bagi tenaga keperawatan dalam mengembangkan kemampuan profesionalnya.

Menyikapi kesenjangan yang terjadi dalam konteks pelayanan keperawatan, dirasakan perlunya upaya mengembangkan manajemen asuhan keperawatan sehingga dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pasien.

Manajemen Asuhan Keperawatan.

Manajemen asuhan keperawatan adalah bagian dari manajemen pelayanan keperawatan yang merupakan pelaksanaan proses keperawatan dengan menggunakan konsep-konsep-konsep manajemen seperti perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan pengendalian atau evaluasi (Gillies, 1994).

Kepala Ruangan sebagai manajer unit (ruang rawat) adalah seorang tenaga keperawatan yang diberi tanggung jawab dan kewenangan dalam mengelola kegiatan pelayanan keperawatan di satu ruang rawat di rumah sakit. Oleh karena itu tanggung jawab manajemen asuhan keperawatan telah didesentralisasikan kepada Kepala Ruangan, sehingga merupakan kewenangan penuh Kepala Ruangan untuk mengatur seluruh aktifitas asuhan keperawatan yaitu kewenangan untuk pengambilan keputusan, meningkatkan mutu asuhan keperawatan secara terus menerus dalam 24 jam, meningkatkan komunikasi intra dan antar unit/bagian, menciptakan hubungan interpersonal yang baik sehingga anggota akan lebih kreatif bagaimana meningkatkan asuhan keperawatan.

Pengelolaan asuhan keperawatan di ruang rawat merupakan ujung tombak praktik keperawatan profesional (PKP) dimana perawat berhubungan langsung dengan klien dan keluarganya atau orang yang terdekat dalam membantu memenuhi kebutuhan dasarnya agar pada akhirnya ia dapat mandiri dan hidup secara produktif.

Pengelolaan/manajemen asuhan keperawatan yang dirancang secara profesional guna memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi pada klien dan keluarganya melalui suatu pengembangan model praktik keperawatan profesional dimana model ini telah dicobakan di RSUPN Cipto Mangunkusumo sejak tahun 1996 dengan bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Keperawatan UI. Pada tahun 2000 telah dilakukan evaluasi terhadap efektifitas pelaksanaan mnodel ini dan dilaporkan bahwa ternyata dengan penggunaan model ini mampu meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL

Pengembangan model ini bertujuan meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui penataan sistem pemberian asuhan keperawatan . melalui model ini dapat ditetapkan rencana kebutuhan tenaga keperawatan secara profesional, metoda pemberian asuhan keperawatan yang digunakan dan cara pendokumentasian asuhan keperawatan.

Model Praktek Keperawatan Profesional merupakan suatu model yang memberi kesempatan kepada para perawat profesional untuk menerapkan otonominya dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan/asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. Model ini selalu mengupayakan bentuk pelayanan dan asuhan keperawatan yang dapat memenuhi kebutuhan pasien melalui berbagai pendekatan. Pemberian asuhan keperawatan di ruang model ini berlandaskan nilai-nilai professional yang menunjukkan adanya otonomi, akontabilitas perawat, dan pengembangan profesi yang memfokuskan setiap upaya keperawatan pada kulaitas pelayanan keperawatan yang tinggi. Kerja tim, kolaborasi, dan konsultasi dijalankan secara konsisten untuk meningkatkan hubungan professional..

Dalam suatu ruang model keperawatan professional, bentuk pelayanan asuhan keperawatan yang diberikan membutuhkan suatu pengambilan keputusan yang didesentralisasikan, memperluas lingkup dan jenis tugas serta tanggung jawab perawat manajer ruangan..

PENGELOLAAN DI RUANG MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL

Model praktek keperawatan professional terdiri dari 4 komponen utama, yaitu :

1. Ketenagaan Keperawatan

2. Metoda pemberian asuhan keperawatan

3. Proses Keperawatan

4. Dokumentasi Keperawatan

Ketenagaan Keperawatan

Pada suatu pelayanan profesional, jumlah tenaga yang diperlukan tergantung pada :

Jumlah pasien dan derajat ketergantungan pasien (Douglas, 1984). Menurut Loveridge & Cummings (1996) klasifikasi derajat ketergantungan pasien dibagi 3 kategori, yaitu :

a. Perawatan minimal : memerlukan waktu 1 – 2 jam/24 jam.:

Ø Kebersihan diri, mandi, ganti pakaian dilakukan sendiri.

Ø Makan dan minum dilakukan sendiri

Ø Ambulasi dengan pengawasan

Ø Observasi tanda-tanda vital dilakukan setiap shift.

Ø Pengobatan minimal, status psikologis stabil.

Ø Persiapan prosedur memerlukan pengobatan.

b. Perawatan intermediet : memerlukan waktu 3 – 4 jam/24 jam.:

Ø Kebersihan diri dibantu, makan minum dibantu

Ø Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam

Ø Ambulasi dibantu, pengobatan lebih dari sekali

Ø Voley kateter/intake output dicatat

Ø Klien dengan pemasangan infus, persiapan pengobatan, memerlukan prosedur

c. Perawatan maksimal/total : memerlukan waktu 5 – 6 jam/24 jam :

Ø Segala diberikan/dibantu

Ø Posisi yag diatur, observasi ytanda-tanda vital setiap 2 jam

Ø Makan memerlukan NGT, menggunakan terapi intravena

Ø Pemakaian suction

Ø Gelisah/disorientasi

Menurut Douglas (1984) ada beberapa kriteria jumlah perawat yang dibutuhkan perpasien untuk dinas pagi, sore dan malam.

Waktu

Klasifikasi

Pagi

Sore

Malam

Minimal

Partial

Total

0,17

0,27

0,36

0,14

0,15

0,30

0,10

0,07

0,20

Sebagai contoh :

Ruang perawatan bedah terdapat 30 pasien, yang terdiri dari 10 pasien minimal, 15 pasien partial, dan 5 pasien total. Maka jumlah perawat yang diperlukan untuk jaga pagi adalah :

10 x 0,17 = 1,7

15 x 0,27 = 4,05

5 x 0,36 = 1,8

--------------------

7,55 à 8 orang perawat yang dibutuhkan untuk dinas pagi.

Untuk mengetahui kebutuhan aktual tenaga keperawatan diruang perawatan sebaiknya dilakukan setiap hari selama minimal 22 hari, dan dalam waktu yang sama.

Misalnya rata-rata perawat yang diperlukan di Ruang Bedah menurut perhitungan Douglas adalah 10 orang perawat, maka jumlah yang diperlukan pada ruang tersebut adalah

Ø Perawat shift : 10 orang

Ø Libur cuti : 5 orang

Ø Ketua tim : 3 orang

Ø Kepala Ruangan : 1 orang

------------------------------------

19 orang.

Terdapat pula cara lain dalam perhitungan jumlah kebutuhan tenaga keperawatan yang diperlukan yaitu dengan menggunakan rumus yang dikembangkan Arndt dan huckabay, 1975 (Gillies, 1994) yang selanjutnya secara populer disebut Formula Gillies, yaitu dengan komponen yang dipertimbangkan dalam perhitungan :

A. Penentuan Rata-rata jam perawatan yang diperlukan pasien setiap hari

B. Rata-rata sensus harian pasien.

C. jumlah hari/tahun = 365 hari,

D. Rata-rata hari libur perawat setiap tahun = 140 hari.

E. Jumlah jam kerja perawat setiap hari.

F. Jam perawatan yang dibutuhkan pertahun

G. Jam perawatan yang diberikan oleh masing-masing perawat pertahun

H. Jumlah perawat yang dibutuhkan di ruang rawat.

Rumus :

A X B X C F

------------- = ----- = H.

(C-D) E G

Contoh :

A = 4

B = 20

E = 8

4 x 20 x 365 29.200

--------------- = ---------- = 16.20 à 16 Perawat shift (pagi, sore, malam)

(365 – 140) 8 1800

Catatan : penentuan jumlah rata-rata jam perawatan pasien dengan mempertimbangkan :

1. Minimal care : 1-2 jam/24 jam

2. Moderate care/partial care : 3 - 4 jam/24 jam

3. Total care : 5 – 6 jam/24 jam.

Contoh : Berdasarkan soal pada klasifikasi tingkat ketergantungan pasien pada Ruang Rawat yaitu terdapat 30 orang pasien, yang terdiri dari 10 minimal care, 15 partial care dan 5 total care. Maka jumlah rata-rata jam perawatan adalah :

Perawatan minimal : 10 x 2 = 20 jam/10 pasien.

Perawatan partial : 15 x 4 = 60 jam/15 pasien

Perawatan total : 5 x 6 = 30 jam/5 pasien.

= 110 : 30 à 3,66 à 4 jam

Menentukan komposisi tenaga :

Abdellah dan Levine pada tahun 1965 (Gillies, 1994) menyarankan kombinasi tenaga keperawatan yaitu 55 % tenaga profesional dan 45 % tenaga non profesional. Bila disesuaikan dengan katagori tenaga keperawatan di Indonesia, maka 55 % minimal lulusan D III Keperawatan dan 45 % tenaga keperawatan lulusan SPK. Intermountain Health Care menyarankan bahwa kombinasi tenaga keperawatan adalah : 58 % RN, 26 % LPN, dan 16 % Aides (perawat pembantu). Apabila dikonversi kategori diatas pada situasi ketenagaan keperawatan di Indonesia maka 58 % Sarjana Keperawatan/D IV Keperawatan, 26 % D III Keperawatan dan 16 % Perawat Kesehatan (SPK).

Perbandingan dinas pagi-sore-malam : 47 % Pagi, 36 % Sore, dan 17% Malam.

Metoda pemberian asuhan keperawatan :

Sistem pemberian asuhan keperawatan adalah suatu pendekatan pemberian asuhan keperawatan secara efektif dan efisien kepada sejumlah pasien. Setiap metoda memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.

Terdapat 3 pola yang sering digunakan dalam pemberian asuhan keperawatan, yaitu penugasan fungsional, penugasan tim , penugasan primer.

a. Penugasan Keperawatan Fungsional :

Sistem penugasan ini berorinetasi pada tugas dinama fungsi keperawatan tertentu ditugaskan pada setiap perawat pelaksana, misalnya seorang perawat ditugaskan khusus untuk tindakan pemberian obat, perawat yang lain untuk mengganti verband, penyuntikan, observasi tanda-tanda vital, dan sebagainya. Tindakan ini didistribusikan berdasarkan tingkat kemampuan masing-masing perawat pelaksana. Oleh karena itu kepala Ruangan terlebih dahulu mengidentifikasi tingkat kesulitan tindakan tersebut, selanjutnya ditetapkan perawat yang akan bertanggung jawab mengerjakan tindakan yang dimaksudkan. Setiap perawat pelaksana bertanggung jawab langsung kepada kepala Ruangan. Tidak ada perawat pelaksana yang bertanggung jawab penuh untuk asuhan keperawatan pada seorang pasien.

Keuntungan :

· Menyelesaikan banyak pekerjaaan dalam waktu singkat.

· Tepat metoda ini bila ruang rawat memiliki keterbatasan/kurang tenaga keperawatan professional.

· Perawat lebih terampil, karena orientasi pada tindakan langsung dan selalu berulang-ulang dikerjakan.

Kerugian :

· Memilah-milah asuhan keperawatan oleh masing-masing perawat.

· Menurunkan tanggung gugat dan tanggung jawab.

· Hubungan perawat-pasien sulit terbentuk.

· Pelayanan tidak professional.

· Pekerjaan monoton, kurang tantangan.

b. Penugasan Keperawatan Tim :

Adalah suatu bentuk sistem/metoda penugasan pemberian asuhan keperawatan, dimana Kepala Ruangan membagi perawat pelaksana dalam beberapa kelompok atau tim, yang diketuai oleh seorang perawat professional/berpengalaman. Metoda ini digunaklan bila perawat pelaksana terdiri dari berbagai latar belakang pendidikan dan kemampuannya.

Ketua tim mempunyai tanggung jawab untuk mengkoordinasikan seluruh kegiatan asuhan keperawatan dalam tanggung jawab kegiatan anggota tim. Tujuan metoda penugasan keperawatan tim untuk memberikan keperawatan yang berpusat kepada pasien. Ketua Tim melakukan pengkajian dan menyusun rencana keperawatan pada setiap pasien, dan anggota tim bertanggung jawab melaksanakan asuhan keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah dibuat. Oleh karena kegiatan dilakukan bersama-sama dalam kelompok, maka ketua tim seringkali melakukan pertemuan bersama dengan anggota timnya (konferensi tim) guna membahas kejadian-kejadian yang dihadapi dalam pemberian asuhan keperawatan.

Keuntungan :

· Melibatkan semua anggota tim dalam asuhan keperawatan pasien.

· Akan menghasilkan kualitas asuhan keperawatan yang dapaty dipertanggung jawabkan.

· Membutuhkan biaya lebih sedikit/murah, dibanding sistem penugasan lain.

· Pelayanan yang diperoleh pasien adalah bentuk pelayanan professional.

Kerugian :

· Dapat menimbulkan pragmentasi dalam keperawatan.

· Sulit untuk menentukan kapan dapat diadakan pertemuan/konferensi, karena anggotanya terbagi-bagi dalam shift.

· Ketua tim lebih bertanggung jawab dan memiliki otoritas, dibandingkan dengan anggota tim.

c. Penugasan Keperawatan Primer

Keperawat primer adalah suatu metoda pemberian asuhan keperawatan dimana perawat perofesional bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap asuhan keperawatan pasien selama 24 jam/hari. Tanggung jawab meliputi pengkajian pasien, perencanaan , implementasi, dan evaluasi asuhan keperawatan dari sejak pasien masuk rumah sakit hingga pasien dinyatakan pulang, ini merupakan tugas utama perawat primer yang dibantu oleh perawat asosiet.

Keperawat primer ini akan menciptakan kesepakatan untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, dimana asuhan keperawatan berorientasi kepada pasien.

Pengkajian dan menyusun rencana asuhan keperawatan pasien di bawah tanggung jawab perawat primer , dan perawat asosiet yang akan mengimplementasikan rencana asuhan keperawatan dalam timdakan keperawatan.

Keuntungan :

· Otonomi perawat meningkat, karena motivasi, tanggung jawab dan tanggung gugat meningkat.

· Menjamin kontinuitas asuhan keperawatan.

· Meningkatnya hubungan antara perawat dan pasien.

· Terciptanya kolaborasi yang baik.

· Membebaskan perawat dari tugas-tugas yang bersifat perbantuan.

· Metoda ini mendukung pelayanan professional.

· Penguasaan pasien oleh seorang perawat primer.

Kerugian :

· Ruangan tidak memerlukan bahwa semua perawat pelaksana harus perawat professional.

· Biaya yang diperlukan banyak.

Proses Keperawatan

Proses keperawatan merupakan proses pengambilan keputusan yang dilakukan perawat dalam menyusun kegiatan asuhan secara bertahap. Kebutuhan dan masalah pasien merupakan titik sentral dalam pengambilan keputusan. Pendekatan ilmiah yang fragmatis dalam pengambilan keputusan adalah : 1). Identifikasi masalah, 2) menyusun alternatif penyelesaikan masalah, 3) pemilihan cara penyelesdaian masalah yang tepat dan melaksanakannya, 4) evaluasi hasil dari pelaksanaan alternatif penyelesaian masalah.

Seluruh langkah pengambilan keputusan ini tertuang pada langkah-langkah proses keperawatan yaitu : 1) pengkajian fokus pada keluhan utama dan eksplorasi lebih holistik, 2) diagnosis yaitu menetapkan hubungan sebab akibat dari masalah masalah keperawatan, 3) rencana tindakan untuk menyelesaikan masalah, 4) implementasi rencana dan 5) evaluasi hasil tindakan.

Dokumentasi Keperawatan

Dokumentasi keperawatan merupakan unsur penting dalam sistem pelayanan keperawatan, karena melalui pendokumentasian yang baik, maka informasi mengenai keadaan Kesehatan pasien dapat diketahui secara berkesinambungan. Disamping itu, dokumentasi merupakan dokumen legal tentang pemberian asuhan keperawatan. Secara lebih spesifik, dokumentasi berfungsi sebagai sarana komunikasi antar profesi Kesehatan, sumber data untuk pemberian asuhan keperawatan, sumber data untuk penelitian, sebagai bahan bukti pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan asuhan keperawatan.

Dokumen dibuat berdasarkan pemecahan masalah pasien. Dokumentasi berdasarkan masalah terdiri dari format pengkajian, rencana keperawatan, catatan tindakan keperawatan, dan catatan perkembangan pasien.

Model Penugasan TIM.

Metoda ini secara khusus dibahas berdasarkan pertimbangan kemungkinan pilihan yang paling tepat untuk dilaksanakan di MPKP RS.Wahidin Sudirohusodo.

Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa model tim adalah merupakan suatu model pemberian asuhan keperawatan dimana seseorang perawat profesional memimpin sekelompok tenaga keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan pada sekelompok pasien melalui upaya kooperatif dan kolaboratif (Douglas, 1984). Model tim didasarkan pada keyakinan bahwa setiap angota kelompok mempunyai konstribusi dalam merencanakan dan memberikan asuhan keperawatan sehingga timbul motivasi dan rasa tanggung jawab perawat yang tinggi sehingga diharapkan kualitas asuhan keperawatan meningkat. Menurut Kron & Gray (1987), pelaksanaan model tim harus dilandaskan pada konsep berikut ini :

1. Ketua tim sebagai perawat profesional harus mampu menggunakan berbagai tehnik kepemimpinan. Ketua tim harus dapat membuat keputusan tentang prioritas dalam kebutuhan klien merencanakan, melakukan supervisi dan evaluasi asuhan keperawatan. pelaksanaan konsep tim sangat bergantung pada filosofi ketua tim apakah berorietntasi pada tugas atau pada klien.

Tanggung jawab Ketua Tim adalah :

a. Mengkaji setiap klien dan menetapkan rencana keperawatan

b. Mengkoordinasikan rencana keperawatan dengan tindakan medik.

c. Membagi tugas yang harus dilaksanakan oleh setiap anggota kelompok dan memberi bimbingan melalui konferens

d. Mengevaluasi asuhan keperawatan baik proses atau hasil yang diharapkan serta mendokumentasikannya.

2. Komunikasi yang efektif penting agar kontinuitas rencana keperawatan terjamin. Terdapat komunikasi yang terbuka melalui berbagai cara terutama melalui rencana keperawatan yang tertulis yang merupakan pedoman dalam melaksanakan asuhan, supervisi dan evaluasi.

3. Anggota tim harus menghargai kepemimpinan Ketua Tim. Ketua Tim membantu anggota tim memahami dan melakukan tugas sesuai dengan kemampuan mereka.

4. Peran Kepala Ruangan penting dalam model tim. Model tim akan berhasil baik bila didukung oleh Kepala Ruangan. Dalam hal ini Kepala Ruangan diharapkan telah :

a. Menetapkan standar kinerja yang diharapkan dari staf.

b. Membantu staf menetapkan sasaran dari unit/ruangan

c. Memberi kesempatan pada Ketua Tim untuk pengembangan kepemimpinan.

d. Menjadi nara sumber bagi Ketua Tim.

e. Mendorong staf untuk meningkatkan kemampuan melalui riset keperawatan

f. Menciptakan iklim komunikasi yang terbuka dengan semua staf.

Tugas dan tanggung jawab :

Dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab didalam melaksanakan asuhan keperawatan dibewdahan tugas dan tanggung jawab Ketua Tim dan tugas serta tanggung jawab anggota tim.

1. Tugas dan tanggung jawab ketus tim ;

a. Bertanggung jawab terhadap pengelolaan asuhan keperawatan klien sejak masuk sampai pulang.

b. Mengorientasikan klien yang baru dan keluarganya.

c. Mengkaji kondisi kesehatan klien dan keluarganya

d. Membuat diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan

e. Mengkomunikasikan rencana keperawatan kepada anggota tim

f. Mengarahkan dan membimbing anggota tim dalam melakukan tindakan keperawatan

g. Mengevaluasi tindakan dan rencana keperawatan.

h. Melaksanakan tindakan keperawatan tertentu

i. Mengembangkan perencanaan pulang

j. Memonitor pendokumentasian tindakan keperawatan yang dilakukan oleh anggota tim

k. Melakukan/mengikuti pertemuan dengan anggota tim/tim kesehatan lainnya untuk membahas perkembangan kondisi pasien.

2. Tugas dan tanggung jawab anggota tim :

a. Melaksanakan tindakan keperawatan yang telah direncana ketua Tim.

b. Mendokumentasikan tindakan keperawatan yang dilakukan

c. Membantu ketua tim melakukan pengkajian, menentukan diagnosa keperawatan dan membuat rencana keperawatan.

d. Membantu ketua Tim mengevaluasi hasil tindakan keperawatan.

e. Membantu/bersama dengan ketua tim mengorientasikan pasien baru.

f. Menggnati tugas pembantu keperawatan bila diperlukan.

3. Tugas dan tanggung jawab pembantu keperawatan, adalah :

a. Membersihkan ruangan dan meja pasien

b. Menyedikan alat-alat yang diperlukan untuk tindakan keperawatan

c. Membantu perawat dalam melakukan asuhan keperawatan

d. Memberishkan alat-alat yang telah digunakan

e. Mengurus pemberangkatan dan pemulangan pasien konsul

f. Mengantar urinal dan pispot ke dan dari pasien.

Strategi kerja dari Tim :

Saat pasien baru masuk di ruang rawat, pasien dan keluarga akan diterima oleh Ketua Tim dan diperkenalkan kepada anggota tim yang ada. Kemudia ketua tim akan memberikan orinetasi tentang ruang, peraturan-peraturan ruangan, perawat penanggung jawab(ketua tim) dan anggota tim.

Ketua Tim (dapat dibantu oleh anggota tim) melakukan pengkajian, kemudian membuat rencana keperawatan berdasarkan standar rencana keperawatan yang sudah ada setelah terlebih dahulu melakukan analisa dan modifikasi terhadap rencana keperawatan tersebut sesuai dengan kondisi pasien.

Setelah menganalisan dan memodifikasi rencana keperawatan, ketua tim menjelaskan rencana keperawatan tersebut kepada anggota tim, selanjutnya anggota tim akan melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan renacana keperawatan tersebut dan rencana tindakan medis yang dituliskan pada format tersendiri. Tindakan yang telah dilakukan oleh anggota tim lalu didokumentasikan pada format yang tersedia.

Bila anggota tim yang menerima pasien baru pada sore dan malam hari atau saat hari libur, pengkajian awal dapat dilakukan oleh anggota tim terutama yang terkait dengan masalah kesehaan utama pasien, anggota tim membuat masalah keperawatan yang utama dan melakukan tindakan keperawatan dengan terlebih dahulu mendiskusikannya dengan penanggung jawab sore/malam/hari libur. Saat ketua tim ada, pengkajian dilengkapi oleh ketua tim, kemudian membuat rencana yang lengkap dan selanjutnya akan menjadi panduan bagi anggota tim dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.

Pada dinas pagi, ketua tim bersama anggota tim melakukan operan dari dinas malam (hanya pasien yang dirawat oleh tim yang bersangkutan), selanjutnya dengan anggota tim pagi melakukan konferens tentang permasalahan pasien, pembagian pengelolaan pasien untuk tiap anggota tim, dan mengkoordinasikan tugas yang harus dilakukan oleh anggota tim.

Selain dengan anggota tim, ketua tim juga melakukan komunikasi langsung dengan dokter, ahli gizi dan tim kesehatan lain untuk membahas perkembangan pasien dan perencanaan baru yang perlu dibuat. Selain itu mengidentifikasi pemeriksaan penunjang yang telah ada dan yang perlu dilakukan selanjutnya. Bila terdapat rencan baru atau ada tindakan tertentu yang harus dilakukan, maka ketua tim akan mengkomunikasikan kepada anggota tim untuk melaksanakannya. Jika terdapat tindakan spesifik yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh anggota tim maka keua tim yang akan melakukan langsung tindakan tersebut. Terutama dalam melakukan intervensi pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga akan dilakukan oleh ketua tim yang didasarkan atas hasil pengkajian pada kebutuhan peningkatan pengetahuan. Pendidikan kesehatan dapat dilakukan mandiri oleh ketua tim atau kolaborasi, midsalnya dengan ahli gizi untuk penjelasan mengenai diet pasien yang benar.

Selama anggota tim melakukan asuhan keperawatan pada pasien, ketua tim akan memonitor tindakan yang dilakukan dan memberi bimbingan pada anggota tim. Anggota tim selama melakukan asuhan keperawatan harus mendokumetasikan semua tindakan yang telah dilakukan pada format-format yang terdapat dipapan dokumnetasi. Kemudian ketua tim akan memonitor dan mengevaluasi kokumentasi yang dibuat oleh angota tim.

Setiap hari ketua tim mengevaluasi perkembangan pasien dengan mendokumentasikan pada format catatan perkembangan dengan metoda SOAP (data subjektif, data objektif, analisa, dan perencanaan). Catatan perkembangan pasien ini bagi anggota tim juga menjadi penuntun dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien.

Bila ada pasien yang akan pulang atau pindah ke unit perawatan lain, ketua tim akan membuat resume keperawatan sebagai informasi tentang asuhan keperawatan yang telah diberikan pada pasien selama dirawat, yang berisi masalah-masalah pasien yang timbul dan masalah yang sudah teratasi, tindakan keperawatan yang telah dilakukan dan pendidikan kesehatan yang telah diberikan.

Pada penggantian dinas pagi-sore dilakukan oeran antara anggota tim pagi dengan anggota tim sore yang didampingi oleh ketua tim. Komponen utama yang diinformasikan dalam operan antara lain keadaan umum pasien, tindakan/intervensi yang telah dilakukan dan atau tindakan yang belum dilakukan, hal-hal penting yang harus diperhatikan oleh perawat dinas sore dan malam yang berkaitan dengan perencanaan keperawatan pasien yang dibuat oleh ketua tim. Selanjutnya bila perlu, ketua tim melengkapi informasi-informasi penting yang belum disampaikan kepada dinas sore. Anggota tim juga menulis laporan pagi/sore/malam pada format yang tersedia.

Pendistribusian Tim dalam kegiatan shift :

Dibawah ini sebagai contoh sistem pendistribusian tim :

Kegiatan shift

Tim I/Kt.tim

Tim II/Kt.Tim

Tim III/Kt.Tim

Pagi

Sore

Malam

2 anggota tim

2 anggota tim

2 anggota tim

3 anggota tim

2 anggota tim

2 anggota tim

3 anggota tim

2 anggota tim

2 anggota tim

8 pasien

9 pasien

8 pasien

Sistem penjadwalan :

Penjadualan di unit keperawatan perlu dilakukan dengan cermat, sebab apa yang dapat terjadi di ruangan sulit dipastikan. Kegiatan yang ada banyak tergantung kondisi pasien. Keadaan pasien dapat berubah-ubah sesuai dengan perubahan kondisi sakit dan kebutuhannya. Oleh karena itu penjadualan perawat diatur secara garis besar supaya dimodifikasi sesuai dengan perubahan situasi dan kondisi yang terjadi di unit keperawatan.

Ada beberapa cara penjadualan :

  1. Penjadualan desentralisasi : Kepala Ruangan merencanakan jadual dinas untuk stafnya. Cara ini menimbulkan kesulitan bila membutuhkan banyak perawat karena absen atau sakit. Kepala Ruangan harus menerencanakan kembali jadual sehingga sering menimbulkan ketidakpuasan staf.

  1. Penjadualan sentralisasi : Petugas ketenagaan akan merencanakan dan mengendalikan jadual, dengan demikian pekerjaan Kepala Ruangan lebih ringan, tetapi petugas tersebut kurang mengetahui tentang perubahan kebutuhan perawat karena beban asuhan keperawatan meningkat di ruangan, maka perlu diberikan gambaran secara menyeluruh tentang tenaga perawat yang shift.

Beberapa yang patut dipertimbangkan dalam penjadualan ;

  1. Sesuai dengan kebijakan, standar dan praktek yang telah ditetapkan dan bagaimana memanfaatkan tenaga keperawatan yang ada.
  2. Perbandingan yasng seimbang antara perawat professional dan yang tidak.
  3. Pelayanan yang terus menerus
  4. Menghindari maldistribution dan over staffing.
  5. Kepuasan anggota staf dalam pekerjaan.
  6. Pertimbangan libur dan hari-hari libur lainnya.
  7. Memungkinkan penyesuaian dalam kasus penyakit, emergensi, atau perubahan dalam kebutuhan asuhan.
  8. Anggota staf diinformasikan 2 minggu sebelum implementasi jadual.
  9. Cegah pada hal yang berhubungan dengan hak-hak individu yang berhubungan dengan diskriminasi akibat perbedaan seks, etnik dan kepercayaan.

Contoh sistem penjadualan 4 minggu :

Nama Perawat

Minggu I

Minggu II

Minggu III

Minggu IV

M

S

S

R

K

J

S

M

S

S

R

K

J

S

M

S

S

R

K

J

S

M

S

S

R

K

J

S

Sri

m

m

m

m

m

-

-

-

p

p

p

p

p

p

s

s

-

s

s

s

s

m

m

m

m

m

-

-

Susi

Leli

Mina

Karim

Dudi

Amir

PP

PP

Pagi

3

3

3

Sore

2

2

2

Malam

2

2

2


































Sumber : Swanburg,1993.hal.51.

Pedoman orientasi bagi pasien dan keluarga :

Selamat datang di ruang rawat Penyakit Dalam Lontara I. Ruang ini adalah ruang percontohan keperawatan dan merupakan ruang perawatan penyakit dalam bagi pasien pria dan wanita. Ruang ini memiliki kapasitas tempat tidur sebanyak 40 buah. Ruang ini merupakan pendidkan bagi dkoter dan perawat. Selam Bapak/Ibu/Saudara di ruang ini ada beberapa hal yang perlu diketahui.

Perawat :

1. Selama dirawat di ruangan ini, Bapak/Ibu/Saudara akan dirawat oleh beberapa orang perawat, namun ada seorang perawat yang bertanggung jawab terhadap perawatan Bapak/Ibu/Saudara yang disebut Ketua Tim.

2. Bila Bapak/Ibu/Saudara ingin mendapatkan informasi tentang perawatan Bapak/Ibu/Saudara dapat ditanya pada Ketua Tim atau pada anggota tim yang bertugas.

Dokter :

Selama di ruang rawat ini program pengobatan Bapak/Ibu/Saudara akan di bawah tanggung jawab seorang dokter.

Perlengkapan sehari-hari :

1. Pasien dianjurkan membawa pakaian sendiri untuk dipakai selama di rumah sakit.

2. Paien/keluarga dianjurkan membawa sendok, gelas, dan termos air sendiri (air minum disediakan oleh pihak rumah sakit).

3. Paien dianjurkan membawa alat-alat mandi sendiri : walap, sabun, handuk, sikat gigi, odol, sampho.

4. pakaian pasien dan barang-barang keperluan pasien dapat disimpan di lemari kecil disamping tempat tidur.

5. Keluarga dapat menyimpan barang-barang pribadi lainnya di lemari yang disediakan dan saat pulang menyerahkan kuncinya kembali pada ketua tim.

Keluarga/pengunjung :

1. Pasien dapat ditunggu oleh seorang anggota keluarga bila atas persetujuan ketua tim/kepala ruangan.

2. penunggu pasien/keluarga tidak diperkenankan menggunakan fasilitas bagi pasien, misalnya kamar mandi, WC.

3. Penunggu pasien/keluarga dapat menggunakan fasilitas yang terdapat di ruang tunggu yaitu pada ……

4. Penunggu pasien tidak diperkenankan merokok, makan/minum di dalam ruang rawat.

Administrasi dan Keuangan :

1. Bagi pasien peserta ASKES biaya yang ditanggung adalah biaya perawatan, sebagian biaya pemeriksaan laboratorium, sebagian biaya obat-obatan, dan sebagian biaya tindakan medis (sesuai dengan aturan ASKES). Keterangan tentang pengurusan ASKES dapat diperoleh dai perawat.

2. Bagi pasien umum (bukan peserta ASKES) harus membayar uang muka untuk ….hari perawat dibagian keuangan ruang rawat penyakit dalam….

3. Sebelum pulang, pasien/keluarga melunasi kekurangan biaya perawatan.

Waktu kunjungan keluarga/dll:

1. Hari biasa/hari kerja : Sore – Pk. … s/d……

2. hari libur : Siang : Pk. …. S/d…..

Sore : Pk …..s/d …

3. Anak-anak usia <>

DAFTAR PUSTAKA

Douglass (1992), The Effective Nurse ; leader and Manager, (4th), St.Louis : Mosby Year Book.

FIK-UI & RSUPN-Cipto Mangunkusumo (2000), Semiloka : Model Praktek keperawatan Profesional II, Jakarta 12 – 14 Juli 2000.

Gillies (1994), Nursing Management a System Approach, Philadelphia : W.B.Saunders.

Kron & Gray (1987), The Management of Patient Care : putting Leadership Skills to Work, (6th), Philadelphia : W.B.Saunders Company.

Ratna Sitorus (1998), Jurnal Keperawatan Indonesia : Pengembangan Model PKP di RSU-Cipto Mangunkusumo, Jakarta : FIK-UI.

Swansburg 7 Swansburg (1993), Introductory Management and leadership for Nurses, (2nd), Boston : Jones and Bartlett Publishers.




KARU


PERAWAT PERAWAT PERAWAT

OBAT GANTI VERBAND KEBERSIHAN


BEBERAPA

PASIEN




Keperawatan Fungsional




KARU


PERAWAT PERAWAT PERAWAT

KA.TIM KA.TIM KA.TIM




















PERAWAT PERAWAT PERAWAT

(ANGG.TIM) (ANGG. TIM) (ANGG. TIM)











BEBERAPA BEBERAPA BEBERAPA

PASIEN PASIEN PASIEN











Keperawatan Tim












DOKTER KARU SUMBER DAYA

RS


PERAWAT PRIMER




PASIEN


PERAWAT PERAWAT PERAWAT

ASOSIET ASOSIET ASOSIET

PAGI SORE MALAM











Keperawatan Primer

RSUD LABUANG BAJI

BIDANG KEPERAWATAN

RENCANA KEPERAWATAN

Nama Pasien :

No.Rekam Medik :

Ketua Tim : Diagnosa Medis :

No

Tgl

Diagnosa Kep. & Data Penunjang

Tujuan

Tindakan

Ket.

RSUD LABUANG BAJI

BIDANG KEPERAWATAN

Nama Pasien :

No.Rekam Medik :

Diagnosa Medis :

CATATAN PERKEMBANGAN KEPERAWATAN

Tgl
Perkembangan Keperawatan
Nama/tanda tangan

RSUD LABUANG BAJI

BIDANG KEPERAWATAN

LAPORAN KEADAAN PASIEN

Nama Pasien :

Umur :

No.Register :

Pagi
Sore

malam

RSUD LABUANG BAJI

BIDANG KEPERAWATAN

RESUME KEPERAWATAN

Nama : No. Rekam medik :

Umur : Ruang Rawat :

Jenis Kel. : Tgl.Masuk dirawat :

Pekerjaan : Tgl keluar RS. :

Agama :

Alamat :

1. masalah perawatan pada saat pasien masuk dirawat :

2. Tindakan perawatan selama dirawat :

3. Evaluasi :

4. Nasehat pada waktu pasien pulang :

Kepala Ruang rawat…….

-------------------------

NIP.



MODEL PRAKTIK  KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP)


Disampaikan sebagai bahan pertimbangan untuk pelaksanaan

MPKP di Ruang Rawat Lontara I (Penyakit Dalam)

RS.Wahidin Sudiro Husodo, Januari 2003.

Disampaikan oleh :

1. Dra.Hj. Werna Nontji, SKp, M.Kep

2. Drs. Julianus Ake, SKp. M.Kep

0 komentar:

Poskan Komentar

Poskan Komentar

www.suffilova.co.cc